Beranda Nasional Isu Kudeta, Amien Rais Sebut Hanya Mengaburkan Kelemahan Pemerintah

Isu Kudeta, Amien Rais Sebut Hanya Mengaburkan Kelemahan Pemerintah

1
BERBAGI

Newsoke.Net, Jakarta- Beredar isuk kudeta yang mencuat belakangan. Hal itu disinyalir hanya upaya mengaburkan kelemahan pemerintah ditengah situasi nasional disaat ini yang diperparah oleh dampak pandemi Covid-19.

Demikian dipaparkannya mantan Ketua MPR RI Amien Rais saat mengisi diskusi daring yang diselenggara Forum Alumni Perguruan Tinggi Indonesia bertajukkan Solusi Penyelematan Bangsa Demi Mencapai Indonesia Adil dan Makmur, pada Jumat (12/6/20).

“Saya membaca isu kudeta itu merupa dan sesungguhnya untuk mengaburkan kelemahan pemerintahan kita sekarang ini,” kata Amien Rais. Menurutnya, untuk hal itu pengaburanya pandangan justru dijadikan kesempatan oleh pihak-pihak ingin menyanjung-nyanjung pemerintah dengan maksud agar dapat berlindung di balik ketiak kekuasaan.

Jadi, isu kudeta itu, sebutnya, mungkin memang dikembangkanya meramaikan suasana. Bisa ditafsir hanya untuk bisa mengaburkan seolah pemerintah harus hati-hati. Semua itu sambungnya, yang terkesan harus dibela pemerintah. Yang dikarena akan ada kudeta. Tapi, dimana itu tambahnya, sangat disesalkan.

Atas dasar itu, Amien Rais menilai isu kudeta belakangan secara mendadak ramai itu hanya untuk kepentingan bagi kelompok-kelompok tersebut. Ditambah lagi, terlalu dini bergulir isu ada kudeta bergulir dalam waktu singkat. “Jadi hal itu menurut saya tidak begitu akan ada kudeta dan lain-lainnya,” ujarnya seperti dilansir RMOL.

Namun begitu, lanjut Amien Rais, akan berbeda halnya jika rakyat benar-benar sadar dan merasa lapar. Dia ungkapkan, dirinya juga pernah berdiskusi strategis dengan seorang dosen ekonomi. Bahwa pada akhir bulan Juli 2020 ini, diprediksi kelompok menengah bisa kehabisannya cadangan untuk kehidupan.

Hal ini, sedikit banyaknya menimbulkan gejolak yang rawan jikalau tidak segera diantisipasi. “Mungkin, diakhir Juli nanti, ketika kelas menengah punya tabungan Rp30 juta, Rp 60 juta, Rp 500 ratus juta itu sudah habis. Selama setahun, tidak bisa apa-apa lagi, kemudian akan bisa jadi rakyat akan lain sikapnya,” katanya.

**red/dai