Gurun Sahara hingga Padang Pasir di Arab Saudi Diselimuti Salju, Fenomena Apa?

75 views 75
!-- Composite Start -->

Arab Saudi, Newsoke.Net – Padang pasir terbesar di dunia Gurun Sahara diselimuti salju dengan suhu di bawah titik beku yakni hingga -2 derajat Celcius. Bukan hanya gurun di Afrika itu, fonemena serupa terjadi di sebagian wilayah Arab Saudi dan sekitarnya yang terkenal kering.

Dikutip dari The Sun, Senin (18/1/21), fotografer Karim Bouchetata pada Rabu pekan lalu mengambil foto luar biasa es yang menutupi pasir di kota kecil Gurun Sahara. Domba terlihat berdiri di bukit pasir yang tertutup es.

Fotografer lain mengabadikan momen di mana unta berjalan di tengah hamparan putihnya salju setelah hujan di wilayah Tabuk, Arab Saudi. Daerah dekat perbatasan Yordania tersebut tengah mengalami cuaca yang tidak biasa pada Januari tahun ini.

Wilayah itu bisa mengalami suhu tertinggi hingga 50 derajat Celcius selama musim panas, namun bisa turun hingga di bawah nol, seperti bulan ini.

Dilansir iNews.id, bahwa Arab Saudi juga sempat mengalami hujan salju lebat pada 2018, membuat penduduk setempat bersenang-senang dengan kereta luncur dan bermain bola salju.

Sejak 10 Januari 2021, penduduk setempat di wilayah pegunungan padang pasir juga disuguhi hujan salju. Diketahui, salju juga mulai turun di dekat kota gurun Ain Sefra, Aljazair, pekan ini. Wilayah yang dikenal sebagai ‘gerbang menuju gurun’ itu berada sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh Pegunungan Atlas.

Salju juga turun di Lebanon, Suriah, dan Iran, di mana beberapa daerah diselimuti es dengan ketebalan mencapai 1 meter.

Ahli meteorologi dari AccuWeather, Eric Leister, mengatakan, meski wilayah tersebut jarang bersalju, bukan berarti fenomena ini suatu hal luar biasa. Para peneliti mempelajari perubahan curah hujan di wilayah Sahara dan menemukan bahwa gurun tersebut telah tumbuh dan berubah secara signifikan selama seabad terakhir karena perubahan iklim.

“Hasil penelitian kami ini khusus untuk Sahara, tapi kemungkinan juga punya dampak untuk wilayah gurun dunia lainnya,” ujar Sumant Nigam, ilmuwan atmosfer dan kelautan Universitas Maryland.

**

Print Friendly, PDF & Email