Bangkitkan Ekonomi Pelaku UMKM pada Masa Pandemi Covid, Tangsi Belanda di Siak Dibuka

77 views 77
!-- Composite Start -->

Siak, Newsoke.Net- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak, sudah membuka kembali seluruh objek wisata di Kabupaten Siak, baik yang dikelola Pemerintah maupun swasta. Hal ini dilakukan membangkitkan kembali perekonomian pelaku UMKM yang sempat anjlok karena pandemi Covid-19 ini.

Selain Istana Assersyah Hasyimiah, di Kabupaten Siak juga ada bangunan bersejarah lainnya bekas peninggalan Belanda yakni Tangsi Belanda yang menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung.

Meski belum seramai pengunjung Istana Siak, pada hari kedua objek wisata Siak dibuka kembali penjara Belanda yang berusia 160 tahun ini juga sudah mulai dikunjungi wisatawan dari luar Kabupaten Siak.

Hafisah, warga Kota Dumai yang tiba di objek wisata andalan baru Pemkab Siak di Desa Benteng Hilir, Kecamatan Mempura bersama keluarganya mengaku baru pertama kali datang ke Tangsi Belanda.

Biasanya saat ke Siak, Hafisah hanya berkunjung ke Istana Siak Sri Indrapura. Ia juga baru mendengar dari keluarganya di Benteng Hilir, kalau ada penjara peninggalan Belanda yang menarik untuk dikunjungi.

“Saya dari kemarin sampai di Siak. Kebetulan tadi saudara kasih tahu kalau ada Tangsi Belanda, bagus katanya sejarahnya. Makanya saya datang ke sini membawa keluarga. Karena ingin tahu juga sejarahnya,” kata Hafisah kepada GoRiau.com, Minggu (15/11/20).

Saat tiba di pintu masuk Tangsi Belanda, Hafisah dan keluarga disarankan untuk mencuci tangan terlebih dahulu dan baru membeli tiket masuk kepada petugas yang berjaga. Untuk 6 orang dewasa yang datang bersamanya, Hafisah membayar Rp30.000.

Sementaraitu, Yulta petugas berada di pintu masuk bangunan bekas penjajah ini menyebut pengujung Tangsi Belanda belum ramai seperti sebelum pandemi Covid-19. “Sejak itu ditutup 20 Juli lalu karena Covid-19, baru 2 hari ini dibuka lagi. Jadi wajar saja wisatawan belum tahu. Kita berharap pengunjung Tangsi ramai lagi seperti sebelumnya,” kata Yulta.

Dijelaskannya, pada hari kerja, pengujung bangunan tua di tepi Sungai Siak ini mencapai 50 hingga 100 orang. Sedangkan pada Sabtu – Minggu dan hari libur lainnya, wisatawan yang datang bisa mencapai 100 hingga 200 orang.

Di Tangsi Belanda, kata Yulta, pengunjung bisa bertanya sejarah bangunan dan apa saja nama-nama bangunan serta kegunaannya pada masa dahulu. Selain itu juga, untuk spot-spot foto menarik, ada juga petugas yang akan membantu mendokumentasikan melalui handphone pengunjung.

“Selain itu juga, kami menyediakan sewa baju ala orang Belanda zaman dahulu di Tangsi ini. Biasanya orang tertarik untuk berfoto dengan kostum jadul itu. Wisatawan juga bisa membeli cenderamata yang dipajang di dekat penjualan tiket masuk. Cenderamata sebagai tanda, bahwa sudah pernah ke Tangsi Belanda,” kata Yulta.

Cenderamata ini, kata Yulta, merupakan produk pelaku UMKM di Kabupaten Siak. Mulai yang dari Tanjak, gantungan kunci, gelas, gelang, pin baju, kipas dan lain sebagainya. Di luar komplek Tangsi Belanda juga banyak masyarakat yang menjual makanan dan minuman.

**

Print Friendly, PDF & Email